Turut Berduka Cita

Datang dan pergi, ada dan tiada. Setiap manusia yang bernafas pastilah akan ada masanya meninggalkan dunia yang fana. Kita nggak pernah menginginkan kepergian seseorang yang kita sayangi, bukan? Tapi, ketika waktunya tiba, mau tidak mau, rela tidak rela, kita akan mengalami masa kehilangan tersebut, ditinggalkan orang yang kita sayang untuk selamanya.

Rumah yang menjadi tempat ternyaman kita selama ini, berubah dari rumah suka menjadi rumah duka. Ketika kita tengah meratapi kepergian seseorang, mencoba belajar mengikhlaskan, meneguhkan diri untuk menerima kenyataan, menangis sesenggukan, menyimpulkan senyum dan mengusap air mata, lalu menemui semua orang yang datang melayat ke rumah kita, memasang muka seperti sedang tidak terjadi apa-apa, menjelaskan kepada mereka berulang-ulang kali. Lagi dan lagi. Waitttt…….

Ya, begitulah yang terjadi pada Maria di film pendek berjudul Turut Berduka Cita (Deep Condolence). Ketika semua orang datang ke rumahnya untuk melayat karena ayahnya meninggal, dia tidak memiliki waktu untuk berduka. Hanya ada jawaban berulang yang ia berikan untuk setiap pertanyaan yang diajukan. “Meninggalnya kenapa?” Ah, rasanya pertanyaan seperti itu adalah template orang melayat, bukan?

Sejak dirilis di laman Youtube sutradaranya, Winner Wijaya, film berdurasi 10.54 menit itu bak mewakili setiap perasaan orang yang pernah berduka, ketika ditinggalkan kerabat dekatnya. Sang sutradara mencoba merekam kebiasaan orang-orang kita lewat film ini, pelayat yang terus menanyakan pertanyaan tak sensitif tanpa rasa iba kepada yang tengah berduka. Seolah setiap kedatangan pelayat adalah sesi wawancara berulang bagi keluarga mendiang.

Rasanya miris tur ironis ya, karena secara sadar atau nggak, kadang kita juga melakukan hal yang demikian, menjadi manusia kepo, yang ingin tahu bagaimana almarhum meninggal, terus membandingkan, tanpa memikirkan perasaan keluarga yang ditinggalkan. Kadang kita lupa, bukan? Bahwa seharusnya kehadiran kita bisa menjadi penenang untuk duka, bukan malah menambah ruang lelah dan kecewa.

Yaa, saya sendiri juga bingung mesti bicara apa ke keluarga yang tengah berduka, karena belum tentu apa yang saya ucapkan juga dapat diterima, huhu. Nah, mungkin alangkah lebih baiknya, daripada sibuk “wawancara” atau mengatakan kalimat sensitif, kita bisa coba melakukan beberapa hal yang sekiranya kehadiran kita menjadi penting untuk rekan kita yang berduka.

Kita bisa menemani dan meyakinkan bahwa orang yang tengah berduka tidak sendirian, apalagi ketika beberapa hari setelah kepergian orang terdekatnya. Mungkin ada kalanya kita bisa meluangkan waktu walau barang sebentar.

Tak ada salahnya kita bisa menjadi pendengar yang baik. Bukan untuk menjadi pendengar akibat sesi wawancara tak ada rasa iba. Namun, apabila dia yang tengah berduka sedang menginginkan orang untuk mencurahkan keluh kesahnya. Mungkin ia ingin didengarkan, meluapkan rasa kehilangan, biarkan saja ia bicara, beri komentar seperlunya pun jika diminta, dan tak perlu kita mengarahkan pembicaraannya.

Kadang orang berduka memiliki perasaan bersalah, sedih atau ingin marah. Seringkali juga diikuti sulit tidur, bingung, sulit berkonsentrasi, atau tak tahu harus berbuat apa. Baiknya, kita harus bisa memahami dan menerima reaksiya, serta memberi ruang untuk ia memulihkan diri dari keadaannya. Sebisa mungkin, kehadiran kita jangan menambah beban atau permasalahan baru bagi yang berduka.

Kalau kamu mau nonton filmnya, ada kok di Youtube, film Turut Berduka Cita (Deep Condolence). Film ini sangat saya rekomendasikan pokoknya. Apalagi kalau kamu suka nonton short movie, film berdurasi singkat yang bisa ditonton sekali duduk nan sarat makna. Segera nonton ya, dan nonton short movie lainnya. Terakhir, semoga kita bisa menempatkan diri dengan berbagai situasi ya, aamiin 🙂

6 Comments

  1. Kehadiran utama kita harusnya cukup memberikan do’a yang terbaik buat almarhum, dan turut mengantarkan jenazah ke pemakaman. Hikmahnya adalah setelah kita pulang dari tempat berduka, nantinya kita selalu ingat dan sadar akan kematian selalu dekat dengan kita. Disisi lain kita juga memberikan ucapan turut berduka cita kepada keluarga dan memberikan semangat agar tetap tabah dan sabar.

  2. I really like reading through a post that can particularly make people think in a actually major way. Also, definitely many thanks for permitting me to comment, which is fairly significant. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *