Hai, kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ketika mengunjungi sebuah tempat yang asik banget untuk menikmati secangkir teh. Tahu kan kalau orang Indonesia terbiasa meminum teh di pagi atau sore hari? Bahkan teh adalah minuman pendamping saat makan siang atau malam hari. So, memang kebiasaan minum teh, atau kita sebut saja untuk kata kerja kali ini adalah ‘ngeteh’ sudah sangat dekat dengan aktivitas masyarakat Indonesia sehari-hari. Ya, jadi ngeteh kalau zaman sekarang mungkin bukan hanya tradisi ya, tapi sudah seperti gaya hidup.

Menurut Halim, dkk. (2016), teh baru dikenalkan di Indonesia pada tahun 1686 oleh seorang ahli botanical sekaligus dokter dari Belanda bernama Andreas Cleyer di perkebunan Batavia. Awalnya teh sebagai tanaman hias, tahun 1728 pemerintah colonial Belanda mendatangkan teh dari Cina untuk dibudidayakan di pulau Jawa. Hanya kalangan tertentu, seperti kaum bangsawan yang bisa menikmati teh pada saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu, setiap kalangan bisa menikmati teh.

Temen-temen kalau lagi berkunjung ke Solo dan sekitarnya, saya sarankan untuk mampir ke lokasi ini. Kenapa? Karena di sini kita bisa menikmati secangkir teh dengan suasana perkebunan teh dan sejuknya udara dingin pegunungan. Yaaa, kalau temen-temen mau lebih dari secangkir juga nggakpapa sih, hehe.

Nama tempat yang saya rekomendasikan ini adalah Ndoro Dongker Tea House atau Rumah Teh Ndoro Dongker. Alamatnya di Jl. Karangpandan-Ngargoyoso, Kemuning, Puntukrejo, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah. Kurang lebih 1 jam dari pusat kota Solo. Tenang saja, kita bisa cek dan cari rutenya lewat Google Maps kok. Lokasinya tak jauh dari tempat wisata Candi Cetho. Rumah teh ini buka setiap hari dari jam 10 pagi sampai 7 malam pada weekdays, dan jam 8 malam saat weekend. Ya, waktu yang tepat untuk ngeteh sambil menikmati gambaran Gunung Lawu yang terlukis nyata di depan mata.

Kenapa dinamakan Ndoro Dongker, ya? Nah, menurut Alvionita dan Prabawa (2016), nama Rumah Teh Ndoro Dongker diadaptasi dari nama pemilik bangunan, yaitu Dongker, yang dulunya merupakan kepala perkebunan teh milik Belanda. ‘Ndoro’ dalam KBBI adalah sapaan untuk bangsawan, majikan atau orang yang dihormati di masyarakat Jawa.

Ketika saya berkunjung ke sini, sangat ramai pengunjung dari kalangan muda hingga orang tua. Tempatnya memang asik banget, dengan desain bernuansa rumah kolonial Belanda, bahkan setiap ruang punya tema yang berbeda, jadi nggak bakal bosen deh kalau misal beberapa kali berkunjung ke sini hanya untuk nongkrong asik sambil ngeteh. Bahkan, kita bisa loh ambil tempat yang spotnya samping kebun teh langsung.

Suasananya sangat tenang dan nyaman, hawa sejuk karena terletak di kaki Gunung Lawu, cocok untuk refleksi dan relaksasi bareng kekasih, kawan, atau kerabat. Banyak spot foto instagramable yang bisa jadi pilihan favorit kita. Mau foto-foto atau sekadar main di tengah kebun teh dengan pemandangan pohon cemara atau gunung, juga bisa banget loh. Asal jangan sampai merusak kebunnya, ya. 😊

Menu yang ditawarkan sangat variatif, mulai dari makanan khas Indonesia hingga mancanegara. Mau cari menu breakfast atau lunch pun juga ada. Gimana? Lengkap bukan? Eh, harganya ya? Harga menu di sana mulai dari Rp 10.000,- hingga Rp 55.000,-.

Ke rumah teh nggak afdhol yaa kalo nggak ngeteh, hehe. Di sini, nggak cuma teh hijau (green tea), atau teh hitam (black tea) seperti yang biasa kita jumpai di rumah-rumah warga pada umumnya. Namanya tea house, ya pasti gudangnya berbagai macam jenis teh ya. Ada yang berasal dari daun teh yang sudah saya sebutkan tadi, white tea, oolong tea, early grey tea, mint tea, atau teh yang berasal dari bunga seperti chamomile, rose, jasmine, dll.

Fasilitas yang disediakan oleh pengelola cukup lengkap, ada parkir yang luas untuk motor dan mobil, toilet yang bersih, musholla (bahkan mukenanya juga wangi dan bersih loh). Buat yang terbiasa hidup dengan air tawar biasa bukan air pegunungan, pas wudhu, beuuuuhhhhh kayak disiram air es dan berasa habis turun dari surga, karena sepertinya muka saya saat itu langsung cerah bersinar, wkwkw. Mohon maaf ya, maklum saya anak pesisir yang kadang juga dapetnya air asin bukan tawar.

Nah, sebelum pulang, nggak ada salahnya nih kalau temen-temen mau beli teh kemasan atau souvenir yang ada logo Ndoro Dongker-nya sebagai oleh-oleh, letaknya ada di dekat area kasir ya. Btw, karena kita hidup di zaman cashless, bayar pakai debit juga bisa kok, santai aja, kalau untuk payment lain saya kurang tau ya karena nggak tanya, mungkin sekarang sudah update pembayaran bisa pake QRIS atau e-wallet lain yang banyak cashback-nya, hahaha.

Salam,

Deka

Sources:

Halim, G.T., O.B. Wicandra, dan Asthararianty. 2016. Perancangan Buku Tentang Tradisi Patehan di Kraton Jogjakarta. Universitas Kristen Petra Surabaya.

Alvionita, A.O. dan B. Prabawa. 2016. Perancangan Media Promosi Rumah Teh Ndoro Dongker. e-Proceeding of Art & Design: 3 (3).

6 Comments

  1. Your content is nothing short of bright in many forms. I think this is friendly and eye-opening material. I have gotten so many ideas from your blog. Thank you so much

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *