Halo.. apa kabar? Hati masih baik kan? Kondisi psikis aman kan? Pendidikan lancar kan? Pekerjaan menyenangkan kan? Temen nggak pada pergi kan? Alhamdulillah kalau semua baik-baik saja iya kan.

Kita pasti pernah punya target dan cita-cita dalam hidup. Semakin bertambah usia, kita dituntut untuk tumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Ya, tuntutan, mau tidak mau. Pasti sering mendengar dong kalau kedewasaan seseorang tidak bergantung pada usianya. Usia bertambah, cita-cita tidak lagi soal ingin menjadi polisi atau dokter seperti saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi sebagian orang yang menginjak usia 20an, mulai membuat target dan perencanaan hidup yang dipikirkan secara matang. Ingin segera menyelesaikan studi, menempuh pendidikan yang lebih tinggi, memiliki pekerjaan yang sesuai passion, menikah dengan orang yang dicintai, memiliki keluarga yang bahagia, dan sebagainya. Namun, tidak jarang ada sebagian orang yang tidak tahu harus membuat perencanaan hidup seperti apa.

“Seharusnya aku sudah lulus kuliah sejak tahun lalu.”

“Aku pasti bisa bekerja di perusahaan bonafit itu sesuai passion yang aku punya.”

“Temanku sudah menikah dan punya karir bagus, tapi aku masih begini-begini saja.”

“Tenang, semua sudah ada waktunya, yang penting tetap jadi diri sendiri saja.”

“Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana.”

Picture by detik.com

Pernyataan-pernyataan di atas mungkin saja muncul di tengah kehidupan kita, entah dari dalam diri kita sendiri atau orang lain di sekitar kita. Hal seperti ini bukanlah hal langka di kalangan orang berusia 20-30an yang menuju fase dewasa awal. Dimana seseorang mengalami krisis emosional yang melibatkan perasaan kesedihan, merasa kesepian, tidak berkecukupan, kecemasan terhadap diri, kebingungan, tidak memiliki motivasi, hingga ketakutan akan sebuah kegagalan, yang kerap dikenal sebagai quarter life crisis.

Masa transisi dari fase remaja menuju dewasa (dalam sikap dan tanggung jawab – pastinya) pun ada tantangannya. Rasa sakit? Ya bisa jadi ada. Perasaan cemas dan ketidakpastian, kayak dia yang tak kunjung mengenalkanmu pada orang tuanya misalnya, haha. Kekacauan batin dan tidak tahu apa yang diinginkan, kita mau ngapain sih? Ternyata keadaan di usia 20an itu tidak semenyenangkan itu ya, pasti ada yang berpikir seperti ini. Takut gagal dan takut membuat keputusan, seperti takut untuk menikah(?)

Fase Quarter Life Crisis

Menurut Dr. Oliver Robinson, seorang peneliti dan pengajar Psikologi di University of Greenwich, fase quarter life crisis terbagi menjadi empat. Fase pertama, dimana perasaan terjebak dalam situasi, mulai dari karir, hubungan, pendidikan, hingga urusan pribadi. Ada perasaan membuncah akan berbagai kesempatan dan pencapaian, tapi disaat yang bersamaan muncul pikiran bahwa hidup kita tertekan atas keputusan yang kita buat.

Fase kedua, pikiran kemungkinan terjadi sebuah perubahan. Muncul perasaan kurang meyakinkan dari setiap keputusan yang kita buat. Kita merasa bahwa kita bisa mencoba berbagai banyak hal. Bahkan dorongan untuk mengubah hidup.

Fase ketiga, fase membangun hidup yang baru. “Gapapa, kok.” Fase dimana kita mulai menyangkal apa yang terjadi, ya kita merasa denial. Kita merasa bahwa semua keputusan yang diambil itu baik-baik saja. Entah hanya berpura-pura baik-baik saja, atau memang demikian adanya, benar-benar baik.

Fase keempat, fase mulai menyusun kembali susunan hidup, kita mulai mengukuhkan komitmen baru terkait ketertarikan, aspirasi, dan nilai-nilai kehidupan yang kita pegang. Hobi yang dulu kita tinggalkan, bertahap kita lakukan lagi.

Normal kok!

Apakah quarter life crisis ini berbahaya? Menurut beberapa ilmuwan psikologi, fase quarter life crisis ini normal kok, bahkan bisa jadi ada dampak positifnya. Mungkin memang kita butuh sebuah krisis dalam hidup kita, supaya kita bisa lebih mengeksplor hidup. Apa yang kita pengen sih? Apa sih life purpose kita? Apa sih ide kita? Di tahap kita sedang merasa bingung ini, ya bisa jadi memang waktu yang tepat, inilah saatnya untuk kita berpikir apa yang sebenarnya kita mau, dan bagaimana cara kita untuk mencapainya.

Semua orang di usia 20-30an pasti akan mengalami fase-fase quarter life crisis ini di dalam hidupnya. Ya, tak terkecuali saya. Sebagai seorang perempuan, apalagi anak pertama yang menginjak usia 22 tahun, saya pun mengalami kebimbangan soal karir, financial, urusan keluarga, pendidikan, hingga ingin membangun sebuah keluarga, hehe.

Picture by hipwee.com

Menurut saya, quarter life crisis ini adalah fase belajar, meski di tengah perjalanannya kita mengalami kebimbangan dan kegalauan hidup. Fase dimana kita berjalan dalam sebuah skenario, yang mengharuskan kita untuk menerima dan belajar di setiap prosesnya. Terjebak dalam kedewasaan tidak selalu mengerikan, ingat bahwa kita masih muda. Ya, saat ini saya bisa memberikan statement seperti ini, semoga di usia 30 tahun masih bisa memberikan statement yang sama, minimal hampir ya.

Inget ya, quarter life crisis ini bukan sesuatu yang harus ditakuti, karena bisa seperti alarm dalam hidup. Eh sebentar lagi kita akan dewasa loh, kurang lebih seperti itu. Guys, setiap orang itu dilahirkan dengan keunikannya masing-masing. So, stop membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Coba bayangkan diri kita 10 tahun yang lalu, diri kita sekarang, dan 10 tahun yang akan datang. Bayangkan saja dulu 🙂 Don’t be so hard on yourself, guys!

Penulis: Deka Cay

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *