Antara Pertemuan dan Perpisahan

Film Antara Skripsi dan Kedai Kopi

Haloo haiii, buat kamu mahasiswa semester akhir, pasti udah nggak asing lagi dengan yang namanya skripsi atau tugas akhir kan. Yak, saya pernah berada di posisi ini, rasanya mengerjakan skripsi itu memang butuh beribu niat dan tenaga untuk mengerjakannya. Iya nggak sih? Karena bakal ada aja yang bakal menjadi kendala kita, baik itu kendala dari dalam diri kita sendiri atau dari lingkungan kita. Ya macem-macem lah.

Sembari di sela-sela mengerjakan skripsi (buat yang lagi ngerjain yaa), nggak ada salahnya nih temen-temen rehat sebentar sambil nonton film pendek, lalu dilanjut lagi. Apalagi di musim pandemi kayak gini, yang mana banyak kegiatan yang mesti kita lakukan dari rumah. Karena kalau mau nonton film di bioskop kan agak worry ya, kalau saya pribadi lebih suka nonton film di rumah dengan durasi pendek, kecuali saya punya bioskop di dalem rumah yang buat saya nyaman nonton film berjam-jam, saya akan pilih nonton film durasi 2 sampai 3 jam, hahaha.

“Antara Skripsi dan Kedai Kopi” adalah salah satu film pendek berdurasi 21 menit 34 detik, karya sutradara Fariz Sudrajad. Film ini diupload di Youtube channel Witacom tanggal 25 Mei 2021, sebuah film kolaborasi antara Witacom dan Zest Badge. Secara keseluruhan film ini menarik, mungkin bagi mahasiswa semester akhir amat relevan, hehe. Apalagi kalau ada kata “Skripsi” di judul film, seolah “Ini kayaknya film tentang gue banget” hahaha. Dari judul film saja udah tau film ini bakal cerita tentang apa. Hanya saja, di musim pandemi kayak gini, mengerjakan skripsi di café atau coffee shop gitu mungkin kurang related, karena harus #dirumahsaja. Meskipun kedai kopi semacam itu sempat menjamur sebelum pandemi, dan mengerjakan skripsi di kafe adalah hal yang asik sekali, apalagi skripsi yang amat berat jadi lumayan ringan buat dikerjakan. Soalnya dulu saya juga suka gitu, pergi ke café, pesan segelas kopi dan camilan sambil mengerjakan skripsi, hihi.

Cerita filmnya nggak melulu soal skripsi dan kopi saja sih, yang pasti sedikit di luar ekspektasi saya mengenai judul skripsi yang ditulis oleh Bram, tokoh utama film tersebut. Iya, hanya judul skripsinya Bram, meski ending dari film ini sudah bisa ditebak. Tapi menarik sih kalau film ini ada lanjutannya, soalnya cerita akhirnya gantung, padahal kan nggak enak ya digantungin, huhu.

Sayangnya, chemistry antara kedua tokoh utama kurang kuat, untuk film yang ringan pun pemilihan bahasa yang digunakan juga agak kaku. Jadi, saya yang nonton kadang mengernyitkan kepala. Soalnya, biasanya bahasa anak tongkrongan di café kan pada santai pakai daily language ya.

Score atau musik latar yang dipakai sih enak banget buat didengerin pas lagi nyantai atau ngerjain skripsi. Mantrakama, lagu-lagu mereka yang menjadi soundtrack filmnya, daan…  saya jadi punya playlist baru sekarang, yes!

“Setidaknya kita berhasil menciptakan peristiwa, meskipun itu sudah kadaluarsa.” Kutipan dari Bram ini menarik, kalau kamu penasaran, kamu bisa tonton filmnya di sini. Siap-siap aja ya kalau scene ini related sama kehidupan kamu, kalau nggak yaa bagus deh, hehe.

Ohya, ada satu scene yang menarik perhatian saya, di mana satu latar yang menjadi “hidden place”nya Bram. Bagi saya antara hidden place, skripsi dan ruang untuk melepaskan penat itu saling terhubung. Saya dulu juga memiliki satu hidden place di kampus, kalau lagi suntuk urusan skripsi ya saya pergi ke sana. Kalau kamu gimana? Punya hidden place juga nggak? Boleh share dong apa atau dimana tempatnya, eittsss… nanti nggak hidden lagi ya namanyaaa hahaha.

Semangat yaa buat kamu yang lagi berjuang menyelesaikan skripsinya, semoga cepat kelar yaa. Saya rekomendasikan film ini buat menemani rehatmu mengerjakan skripsi, atauu… sedikit nostalgia tentang dunia perskripsweetan itu. Nanti kalau sudah nonton, tolong kabari saya lagi yaa di mari 😊

7 Comments

  1. Dari judulnya menarik buat ditonton, sayangnya dialog dan videografernya kurang sih.
    Bagus banget hidden place yang dijadikan sampul filmnya

  2. Jadi tertarik buat nonton setelah baca ini Dek haha. Skripsi emg bakal menjadi salah satu kenangan yg bakal diinget mahasiswa sih, karena bakal ada “bumbu-bumbu” yang entah itu mengenakkan atau tidak. Misalnya dosen pembimbing yang kurang kooperatif dengan kita jadi kita harus ekstra sabar pas ngerjain. Kalau untukku sendiri sih dulu pas skripsian ada penyesalan karena banyak magernya sampe satu tahun hiks. Aku baru ambis skripsi ketika teman-teman dekatku udh mulai sidang dan mau wisuda. Dan ternyata skripsian itu hanya butuh waktu normal 3 sampai 4 bulan aja loh, asal km benar-benar ambis ngerjainnya hehe. Oh ya, kalau aku sih tipe ngerjain skripsi yg harus di kos atau tempat yg sepi tanpa gangguan suara orang sedikit pun, pernah sekali coba ngerjain skripsi bareng temen di cafe malah gk garap apa-apa alias malah ngobrol-ngobrol doang wkwk. Curhatku panjang jg ya ahaha, itu aja deh dek. Semangat terus menulis!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *