Hai, sudah tahu kan salah satu film anti-hero dari Sony Pictures yang baru rilis 30 Maret 2022 lalu di Indonesia? Film yang beberapa kali mengalami penundaan tayang, akhirnya muncul juga ya di layar lebar. Setelah berhasil dengan film anti-hero pendahulunya, kini Sony Picture menayangkan sebuah film berjudul ‘Morbius’. Film ini diadaptasi dari komik Marvel, tentang seorang dokter yang melakukan eksperimen namun mengalami kegagalan hingga membuatnya menjadi seperti vampir.

Sinopsis Singkat

Morbius menceritakan tentang perjalanan hidup Dr. Michael Morbius (Jaret Leto) dari ia kecil yang menyandang penyakit darah langka, penyakit tersebut membuat ia tidak bisa berjalan dan harus menjalani pengobatan di sepanjang hidupnya. Morbius kecil yang dirawat di sebuah yayasan bertemu dengan Lucien Milo (Matt Smith) yang memiliki penyakit yang sama dengan dirinya. Berkat kecerdasan Morbius akhirnya ia disekolahkan ke sebuah sekolah khusus, hingga ia mampu menciptakan darah buatan sebagai ‘obat’ untuk penyakitnya dan mendapatkan gelar doctor.

Rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk sembuh serta menjadi manusia normal, mendorong ia melakukan sebuah penelitian rahasia bersama Dr. Martine Bancroft (Adria Arjona). Morbius menciptakan serum yang terbuat dari campuran DNA manusia dan kelelawar, serum tersebut diuji cobakan pada dirinya sendiri. Tak disangka, penelitian yang dianggap akan berhasil justru mengalami kegagalan. Naas, kegagalan tersebut justru membuat ia bertransformasi menjadi vampir yang haus akan darah segar manusia. Lalu apa yang terjadi selanjutnya, setelah Morbius bertransformasi menjadi seorang ‘vampir’? Mending nonton langsung saja ya, karena film ini masih tayang di bioskop kesayangan kamu.

Sebelum membahas tentang filmnya, saya mau melipir bentar ke posternya. Hal pertama ketika saya melihat poster film Morbius, langsung teringat pada film Venom (2018). Ya maklum, lah wong masih diproduksi oleh studio produksi yang sama, kan. Justru, hal ini membuat saya menaruh ekspektasi lebih kepada Morbius, berharap filmnya akan bagus dan melebihi film Venom yang pertama itu.

Source: Sony Picture
Source: Sony Pictures

Akting Jared Leto dan Matt Smith

Jared Leto memerankan Morbius dengan porsi yang pas, ia berhasil memerankan Morbius yang selalu terlihat baik, lemah, letih, dan fokus akan suatu hal dengan sangat meyakinkan.  Dia juga mampu menggambarkan dirinya sebagai orang yang teguh akan jati dirinya.

Menurut saya, justru Matt Smith di sini yang memiliki peran bagus sehingga filmnya terasa ‘hidup’. Ia berhasil memerankan Milo sebagai seseorang yang merasa “dianaktirikan”. Kisah persahabatannya dengan Morbius digambarkan dengan cukup baik, meskipun tak diperlihatkan adegan yang menjelaskan tentang persahabatan mereka dalam durasi yang lama. Namun, chemistry sebagai sahabat karib bisa saya tangkap. Akting Matt Smith sebagai villain dalam film ini berhasil meninggalkan kesan, apalagi sikap energik ketika dia berhasil sembuh dari penyakitnya.

Source: Sony Pictures

Alur Cerita yang Hambar

Kekurangan dari film garapan Daniel Espinosa ini ada pada alur cerita yang menurut saya biasa saja. Bahkan di sepanjang nonton filmnya, tidak ada yang berhasil membuat saya terpukau. Adegan ketika Milo menyakiti Nicholas (Jared Harris), ayah asuh Morbius dan Milo ketika masih tinggal di yayasan, ternyata tak berhasil membuat saya menitikkan air mata, seperti tatkala Bibi May meninggal di film Spider-Man: No Way Home. Flat, begitu saja tak bisa diajak naik turun perasaan saya, sedih tak jadi, pun tegang juga tak bisa. Hanya adegan di lorong yang mengakibatkan seorang ners menjadi korban sedikit ada nuansa tegang dan horror. Espenosa tidak menggambarkan perubahan karakter Milo dengan jelas. Awalnya ia adalah sahabat dekat Morbius, tak terlihat seperti memiliki motif yang kuat untuk menjadi penjahat dalam film tersebut.  Ketika film tersebut selesai juga tak terlalu berkesan apa-apa. “Hah! Gitu aja nih?” itulah yang bisa saya komentari ketika film itu selesai.

Sorce: Sony Picture

Morbius sebagai vampir yang menakutkan tak diperlihatkan begitu kuat. Justru efek CGI yang disajikan membuat Morbius tak terkesan garang. Apalagi ketika adegan duel antara Morbius dan Milo, semuanya tampak cepat dan tak begitu jelas. Kelelawar yang membantu morbius ketika pertarungan melawan Milo di akhir justru membuat ia seperti tak memiliki kekuatan apa-apa. Padahal seharusnya Espinosa bisa membuat adegan demi adegan fighting itu lebih rinci, jelas, dan tak terburu-buru. Masa iya musuh bisa ditaklukkan begitu saja tanpa ada perlawanan yang ‘wow’. Untungnya, hal ini mampu ditutupi oleh sinematografi yang apik. Padahal saya berekspektasi ketika Morbius bangkit akan ada pertarungan yang sengit dan seru, hingga membuat penonton menyaksikan pertarungan tak mau berkedip. Malah film ini alurnya seperti dipaksakan. Apakah ini disebabkan karena perubahan naskah dan syuting yang berulang-ulang? Kalau menurut kamu gimana?

Unsur Romansa Biasa dan Kehadiran Sia-sia

Unsur romansa yang dihadirkan dalam film juga terkesan dipaksakan. Romantika antara Morbius dan  Martine tidak memiliki keintiman yang begitu berarti. Meski begitu, secuil adegan romansa ini memberikan gambaran bahwa walaupun Morbius sudah menjadi vampir yang menyeramkan, ia tetap memerlukan kasih sayang, eaa. Selain itu, ada karakter yang kehadirannya dirasa sia-sia, yaitu Alberto Rodriguez (Al Madrigal) dan Simon Stroud (Tyrese Gibson), agen FBI yang ternyata hanya muncul ketika ada korban yang terbunuh oleh vampir. Mereka tak punya andil besar dalam plot film tersebut.

Source: Sony Pictures

 So, apakah film ini sangat recommended untuk ditonton? Tidak juga, well I gives 5.5 out of 10 gold stars for Morbius. Tapi, kalau kamu mau cari film yang ‘santai’ dengan konflik yang tidak kompleks, atau alur cerita yang tak beraneka, mungkin ini adalah film yang pas untuk kamu tonton bersama keluarga, pasangan, atau teman kamu.

Salam,

Deka 🙂

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *