Halo, kita semua tidak pernah membayangkan kalau tahun 2020 akan menjadi tahun yang luar biasa seperti ini, ya. Kita semua dibayang-bayangi pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Resesi ekonomi yang bisa saja terjadi. Belajar via daring yang menuntut akses internet cepat dan kondisi psikologis yang baik tentunya. Hingga harus menahan diri untuk berwisata. Yaa, meskipun beberapa industri pariwisata kini perlahan mulai bangkit, setelah beberapa bulan ia mati suri.

Oh ya, meskipun belum bisa pergi ke tempat wisata yang kamu inginkan, atau mungkin kamu punya rencana liburan ke luar negeri tahun ini tapi harus ditunda karena pandemi, hmm atau batal? Hiks. Tenang-tenang, meskipun liburan realnya belum bisa terlaksana, kali ini saya ingin mengajak kamu untuk jalan-jalan ke tempat wisata dengan cara yang beda dari biasanya.

Eh, tapi kaan, sekarang lagi pandemi? Ngurus surat keterangan negatif Covid-19 biar bisa bepergian saja ribet. Hadeeeh.

Eits, kalem dulu dong. Meskipun kamu lagi work from home, belajar online, hingga masih menunggu-nunggu kerjaan baru, nggak ada salahnya loh refresh sebentar dengan jalan-jalan (online), haha. Yak, jalan-jalan online, tapi nggak cuma sekedar virtual travel biasa ya, saya ingin mengajak kamu sekalian time travel virtual. Yaa, siapa tahu nanti setelah pandemi kelar, era new normal berganti menjadi benar-benar normal, ini semua bisa jadi kenyataan, aamiin.

Gimana caranya deh virtual travel apalagi sekalian menjelajahi waktu? Dikira lagi main film Ant Man kali ah?!”

Ada banyak cara loh sebenarnya yang bisa kita lakukan buat virtual travel, nggak cuma sekadar berselancar di internet, kita bisa memanfaatkan Google Maps atau Google Earth. Soalnya kalau mau pakai Virtual Reality (VR) technology atau VR Software mahal euy, hehe. Kita manfaatin yang gratisan aja, ya, masa kayak gini kan kudu banyak menabung juga, asek.

Kamu pernah nonton video Jalan-Jalan Saat Karantina Raditya Dika di Youtube channelnya nggak? Dia melakukan perjalanan virtual menggunakan Google Earth. Nah, kali ini saya juga akan menggunakan Google Earth, kalau Google Maps saya rasa hampir semua orang tiap hari memakainya, minimal untuk mencari jalan kebenaran, eh.

Picture by Google

Menurut Wikipedia, Google Earth itu program globe virtual yang disebut Earth Viewer dibuat oleh Keyhole, Inc.. Program ini memetakan bumi dari superimposisi gambar yang dikumpulkan dari pemetaan satelit, fotografi udara dan globe GIS (Geographic Information System) 3D. Yuk lah, langsung saja. Saat pertama buka, tampilan Google Earth nya bakal kayak gini nih, kalau ngga punya software nya, tenang, pakai Google Earth Web juga bisa kok.

Tampilan Awal Google Earth

Lets go, kuy… Perjalanan pertama saya mulai menuju kota Makkah, Arab Saudi. Bagi umat muslim kota ini sangat amat penting sekali. Apalagi di saat pandemi kali ini, di bulan Dzulhijjah kemarin hanya orang-orang terpilih yang dapat menunaikan ibadah haji di Makkah. Gengs, tapi pastikan kalau internet kamu amat sangat lancar ya, haha, biar perjalananmu nggak tersendat-sendat.

Tampilan Kota Makkah, Arab Saudi di Google Earth

Nah, dari tampilan di atas terlihat bahwa bangunan 3D saya aktifkan, jadi Makkah Royal Clock Towernya terlihat seperti itu, kan. Kalau mau dihilangkan juga bisa. History waktunya juga saya aktifkan tuh. Di bawah ini tampilan Ka’bah Tahun 2015.

Tampilan Area Sekitar Ka’bah Tahun 2015 via Google Earth

Sementara itu, di bawah ini adalah tampilan hasil tangkapan citra Google Earth yang terakhir saat pandemi Covid-19 mulai menyerang dunia, 6/5/2020. So sad, terlihat banget bedanya kan, kalau yang di atas, di sekitar Ka’bah masih terlihat orang yang beribadah, sedangkan yang di bawah ini gambar menunjukkan bahwa area di sekitar Ka’bah bersih, tak terlihat orang. Memang saat itu pemerintah Arab Saudi sudah menutup sementara.

Tampilan Area Sekitar Ka’bah Tahun 2020 via Google Earth

Mau lanjut keliling dunia ke mana lagi? Kalau negara impian yang ingin saya kunjungi selain di Arab Saudi ya Perancis dan Turki. Nah, sementara saya keliling dunia, kamu juga harus ikut keliling dunia virtual ya, sekalian lakukan perjalanan waktu dan lihat perubahan yang terjadi. Tapi sebelum ke sana, saya mau pulang ke rumah, maklum anak rantau lagi homesick. Nah, kalau kangen kampung halaman, bisa caw aja langsung kan ya.

Fitur yang tersedia di Google Earth ini juga bisa mengarahkan kita untuk menelusuri street view nya, jadi berasa lagi bener-bener jalan-jalan. Selain itu, bisa kita alihkan penulusuran lewat Google Maps. Bisa kita save, menambahkan tanda letak, bisa kita tampilkan bangunan 3D, foto, jalan, cuaca, dan sebagainya. Bahkan untuk beberapa tempat, kita bisa masuk ke dalam gedungnya loh. Biasanya sih gedung tertentu seperti museum, karena sangat tidak mungkin kalau gedung FBI bisa kita akses. Eh, emang kantor FBI nggak dirahasiakan? Haha.

Selain time travel, kita juga bisa merekam perjalanan kita loh, sekalian aktifkan fitur suara, jadi kita bisa cosplay youtuber ala-ala yang lagi ngevlog macem Raditya Dika, haha.

Guys, bahkan Google Earth Pro (belum tau kalau yang web, Google Earth, dan Google Earth Plus), bisa mengajak kita travel ke luar angkasa loh. Selain Bumi, dia bisa mengajak kita pergi ke langit, Mars, dan Bulan. Jadi lagu Pergi ke Bulan sekarang tidak hanya sekedar lagu, dan pergi ke luar angkasa tak butuh biaya triliyunan, melainkan bisa pakai paket hemat macam penyetan ayam pinggir jalan.

Tampilan Langit via Google Earth

Hayoo, kamu yang suka baca zodiac, lihat bintang kamu nggak di situ? Saya nemu zodiac saya tuh, Aquarius. Itu tampilan citra tahun 2007 ya guys. Kalau di zoom in, waaah luar biasa sekali, semakin banyak bintang yang bisa kita lihat, baik yang sudah bernama maupun belum. Kalau selama ini kita melihat bintang kecil di langit karena jaraknya jauh, di sini kita bisa melihat bintang lebih dekat.

Kalau sudah terlempar di angkasa di antara bintang-bintang di langit, bagaimana kalau sekalian pergi ke bulan? Emangnya Neil Amstrong doang yang bisa? Kita juga bisa kan yaa, yok lah jangan mau kalah. Pokoknya bayangin dulu saja ya, hehe.

Tampilan Bulan via Google Earth

Nah, kalau kita aktifkan fitur Historic Maps nya, bakal seperti di bawah ini nih tampilannya. Sekalian pas dapet titik Apollo 16 Extravehicular Activity (EVA) mendarat di bulan tuh. Kalau nggak diaktifkan Historic Maps nya ya tampilan bulan kayak keju di film Tom and Jerry cuma warnanya silver. Plek kayak yang di film-film deh.

Historic Maps Bulan di Google Earth
Historic Maps Bulan di Google Earth

Ternyata di bulan pun sudah di kapling-kapling ya, kira-kira berapa harga per kaplingnya ya di sana? Huhu. Setelah keliling bulan, alangkah baiknya sekalian kita menyelesaikan misi luar angkasa kita, yaitu jalan-jalan ke Mars. Apakah kita akan menemukan alien di sana?

Tampilan Mars via Google Earth

Fitur Historic Maps juga tersedia loh, nih tampilannya kayak gini, ya mohon maaf kalau terbalik-balik.

Historic Maps Mars di Google Earth

Menariknya, kalau perjalanan di Bumi kita bisa search, yang lainnya ini belum bisa. Setelah lelah mengitari Mars, saya beruntung bertemu alien untuk dijadikan oleh-oleh. Bukan, bukan, ya kali. Kalau Baby Alien si Marc Marques mah nggapapa. Saya sampai ke Syrtis Major Planum. Syrtis Major Planum atau yang biasa disebut titik gelap (fitur albedo) menurut Wikipedia adalah gunung berapi perisai yang terletak di antara dataran rendah utara dengan dataran tinggi selatan planet Mars.

Syrtis Major Planum via Google Earth

Bagaimana? Sudah pada capek belum time travel virtualnya? Masih mau lanjut ya? Ya sudah silakan, saya mau lanjut jalan-jalan ke Mars juga. Siapa tahu bisa beli kapling di sana dan ketemu alien sebelum balik ke Indonesia. Halah, halu. Happy travel all, meski di tengah kesibukan masa pendemi yang kadang bikin jenuh karena di rumah saja, bukan berarti tidak bisa kemana-mana ya. Justru dengan Google Earth malah bisa jalan-jalan keliling dunia hingga luar angkasa hanya modal kuota internet dalam waktu sehari saja, haha 🙂

Penulis: Deka Cay

8 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *